Senin, 10 Desember 2012

ASPEK PERKEMBANGAN KOGNITIF PESERTA DIDIK


ASPEK PERKEMBANGAN KOGNITIF PESERTA DIDIK

Oleh :

Atier Al Wifaq                                               201210070311137
Nurul Hidayati                                              201210070311149
Nayla Berliana Nugrahandhini                   201210070311171


MATERI

A.    Pengertian Perkembangan Kognitif
Serupa dengan aspek-aspek perkembangan yang lainnya, kemampuan kognitif anak mengalami perkembangan tahap demi tahap. Secara sederhana, pada buku karangan (Desmita, 2009) dijelaskan kemampuan kognitif dapat dipahami sebagai kemampuan anak untuk berpikir lebih kompleks serta kemampuan melakukan penalaran dan pemecahan masalah.
Menurut Mayers (1996), “cognition refers to all the mental activities associated with thinking, and remembering” Pengertian yang hampir serupa dengan pengertian yang diberikan oleh Margaret W. Matlin (1994), yaitu: “cognition, or mental activity, involves the acquisition, storage, retrieval, and use of knowledge.”
Beberapa konsep dan prinsip tentang sifat-sifat perkembangan kognitif anak menurut piaget, antara lain :
1.      Anak adalah pembelajar yang aktif.
Dalam memehami dunia mereka sacara aktif, anak menggunakan “schema”(skema) seperti yang disebutkan oleh Piaget, yaitu konsep-konsep atau kerangka yang ada dalam pikiran anak yang digunakan untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi.
2.      Anak mengorganisasi apa yang mereka pelajari dari pengalamannya.
Anak-anak itu tidak hanya mengumpulkan semua yang mereka pelajari dari fakta-fakta yang terpisah menjadi suatu kesatuan. Sebaliknya anak memberikan gambaran khusus untuk membangun suatu pandangan  menyeluruh tentang dunia dan kehidupan sehari-hari.
3.      Anak menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui proses asimilasi dan akomodasi.
Ketika anak menggunakan dan beradaptasi terhadap skema yang mereka buat, ada dua proses yang bertanggung jawab yaitu assimilation dan akomodasi. Asimilasi terjadi apabila seorang anak memasukkan pengetahuan baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada, yaitu anak mengasimilasikan lingkungan kedalam suatu skema. Akomodasi terjadi ketika anak menyesuaikan diri pada informasi baru, yaitu anak menyesuaikan skema yang dimilikinya dengan lingkungannya.
4.      Proses ekuilibrasi menunjukkan adanya peningkatan ke arah bentuk-bentuk pemikiran yang lebih komplek.
Menurut Piaget, ketika anak melalui proses penyesuaian asimilasi dan akomodasi system kognisi anak berkembang dari satu tahap ke tahap yang selanjutnya, sehingga kadang-kadang mencapai keadaan equilibrium, yaitu keadaan seimbang antara struktur kognisinya dan pengalamannya dilingkungan.
B.     Proses Perkembangan Kognitif
Ada dua alternative proses perkembangan kognitif yaitu pada teori dan tahap-tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Piaget dan proses perkembangan kognitif oleh para pakar psikologi pemprosesan informasi.
1.      Teori Perkembangan Kognitif Piaget.
Menurut teori Piaget, setiap individu pada saat tumbuh mulai dari bayi yang baru di lahirkan sampai mengijak usia dewasa mengalami empat tingkat perkembangan kognitif, yaitu:
a.       Tahap Sensori-Motorik (usia 0 sampai 2 tahun)
Dalam postingnya, (Arya, 2010) ”Piaget berpendapat bahwa dalam perkembangan kognitif selama stadium sensori motorik ini, inteligensi anak baru nampak dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi simulasi sensorik. Dalam stadium ini yang penting adalah tindakan konkrit dan bukan tindakan imaginer atau hanya dibayangan saja.” Pada proses ini Piaget menamakan proses desentrasi, artinya anak dapat memandang dirinya sendiri dan lingkungan sebagai dua entitas yang berbeda.
b.      Tahap Pra-Operasional (usia 2 sampai 7 tahun)
Pada tahap ini anak mulai merepresentasikan dunia dengan kata-kata dari berbagai gambar. Kata dan gambar-gambar ini menunjukkan adanya peningkatan pemikiran simbolis dan melampaui hubungan informasi indrawi dan tindakan fisik (Desmita, 2009). Begitu juga dari sumber posting (Joesafira,2010) pada tahapan pra-operasional menurut piaget ada beberapa cirri antara lain :
1.                           Berpikir pra-operasional masih sangat egosentris. Anak belum mampu (secara perseptual, emosional-motivational, dan konsepsual) untuk mengambil perspektif orang lain.
2.                           Cara berpikir pra-operasional sangat memusat (centralized). Bila anak dikonfrontasi dengan situasi yang multi-dimensional, maka ia akan memusatkan perhatiannya hanya pada satu dimensi saja dan mengabaikan dimensi-dimensi yang lain dan akhirnya juga mengabaikan hubungannya antara dimensi-dimensi ini.
3.                           Berpikir pra-operasional adalah tidak dapat dibalik (irreversable). Anak belum mampu untuk meniadakan suatu tindakan dengan memikirkan tindakan tersebut dalam arah yang sebaliknya.
4.                           Berpikir pra-operasional adalah terarah statis.
5.                           Berpikir pra-operasional adalah transductive (pemikiran yang meloncat-loncat). Tidak dapat melakukan pekerjaan secara berurutan.
6.                           Berpikir pra-operasional adalah imaginatif, yaitu menempatkan suatu objek tidak berdasarkan realitas tetapi hanya yang ada dalam pikirannya saja.


2.      Tahap Konkret-operasional (usia 7 sampai 11 tahun)
Ditahap ini anak dapat berpikir secara logis mengenai peristiwa-peristiwa yang konkret dan mengklasifikasikan benda-benda ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda (Desmita, 2009).
3.      Tahap Operasional Formal (usia 11 tahun sampai dewasa)
Ditahap ini remaja berfikir dengan cara yang lebih abstrak, logis, dan lebih idealistik. Dalam blog (Joesafira, 2010) tahap operasional formal mencakup dua hal, yaitu :
1)      Sifat deduktif-hipotesis
2)      Berpikir operasional formal juga berfikir kombinatoris.
4.      Teori Pemprosesan Informasi.
Pada teori Piaget perkembangan kognitif digambarkan dengan berbagai tahap tetapi, para pakar psikologi pemprosesan informasi lebih menekankan pentingnya proses-proses kognitif atau menganalisis perkembangan keterampilan kognitif, seperti perhatian, memori, metakofnisi dan strategi kognitif.
Setidaknya ada tiga dasar asumsi umum teori pemprosesan informasi (Zigler & Stevenson, 1993) dalam buku Desmita(2009:116) yaitu :
a. Pikiran dipandang sebagai suatu system penyimpanan dan pengembalian informasi.
b.  Individu-individu memproses informasi dari lingkungan.
c.  Terdapat keterbatasan pada kapasitas untuk memproses informasi dari seorang individu.
C.    Karakteristik Perkembangan Kognitif
1.Usia Sekolah (Sekolah Dasar)
Berdasarkan pada teori kognitif piaget, pemikiran anak-anak usia sekolah dasar masuk dalam tahap pemikiran kongkret-operasional, yaitu masa dimana aktivitas mental anak terfokus pada objek-objek yang nyata atau pada berbagai kejadian yang pernah dialaminya.
Pada masa ini anak telah mengembangkan tiga macam proses yang disebut dengan operasi-operasi: negasi, resiprokasi dan identitas.
a.Negasi (negation)
b.Hubungan timbal balik (resiprokasi)
c.Identitas
2.Remaja (SMP dan SMA)
Pada masa remaja, kemampuan anak sudah semakin berkembang hingga memasuki tahap pemikiran operasional formal. Yaitu suatu tahap perkembangan kognitif yang dimulai pada usia kira-kira 11 dan 12 tahun dan terus berlanjut sampai usia remaja  sampai masa dewasa (Lerner & Hustlsch, 1983) dalam (Desmita, 2009). Pada masa remaja, anak sudah mampu berfikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang sudah tersedia.
D.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif
Dalam posting (Wiriana, 2008) pun dijelaskan tentang faktor  yang mempengaruhi perkembangan kognitif adalah:
1.Gaya pengasuhan.
Baumrind menekankan tiga tipe gaya pengasuhan yang dapat mempengaruhi    perkembangan kognitif,  pada anak (Wiriana, 2008), yaitu :
a.Gaya pengasuhan Otoriter (authoritarian parenting)
b.Gaya pengasuhan Otoritatif (authoritative parenting)
c. Gaya pengasuhan Permisi    (permissive parenting)




Gaya pengasuhan permisi dibagi menjadi dua yaitu :
a. Pengasuhan permissive indulgent
b. Pengasuhan permissive indifferent

2.      Pengaruh lingkungan.
Pengaruh lingkungan juga memberikan andil yang cukup besar terhadap perkembangan kognitif anak. Lingkungan dalam konteks ini adalah lingkungan di luar rumah atau keluarga. Lingkungan pertama yang berpengaruh adalah sekolah, pengaruh teman sebaya (peers), status sosial ekonomi, peran gender dalam keluarga, dan media masa.
Beberapa tips untuk mengembangkan kemampuan kognitif pada anak (Wiriana, 2008), antara lain :
1. Asupan gizi yang memadai dan disesuaikan dengan kebutuhan anak.
2. Melakukan beberapa latihan fisik dan relaksasi seperti, brain gym.
3. Keluarga sebagai fondasi bagi perkembangan anak ke depan hendaknya mampu     menciptakan suasana yang harmonis, hangat dan penuh kasih sayang.


C.    Tanya-Jawab:

1.      Fennalia (201210070311172)
Bagaimana dengan orang yang mempunyai perkemabangan kognitif yang lambat, maka orang tersebut dikelompokkan dalam tahap apa ?
Kemudian bagaimana dengan orang yang telah lanjut usia ?
2.      Dani (201210070311150)
Proses apa yang terjadi pada tahap pra-operasional (2-7 th) ?
3.      Dwi Ridho (201210070311153)
Masalah kognitif seringkali menjadi masalah dalam pendidikan formal, bagaimana pandangan tentang hal tersebut dan bagaimana pila pemecahannya ?

jawaban:

1.    Menurut jawaban dari kelompok ini mereka masih termasuk dalam anak-anak. Jadi kita tidak bisa menuntut mereka untuk berbuat lebih.
Untuk orang yang lanjut usia, maka perkembangannya menurun. Karena orang yang sudah tua maka memori dan semua keadaannya menurun.

2.    Pada tahap ini anak mulai mempelajari dunia barunya dari gambar-gambar yang mereka lihat. Selain dari gambar, anak mulai mempelajari dunianya dari simbol-yang mereka tangkap dari penglihatannya.
Jawaban ini kemudian disempurnakan oleh Bapak Nur Widodo:
Tahap pra-operasional adalah tahapan motorik dan sensorik. Pada tahap ini anak masih belum bisa membuat konsep. Kemudian dia melihat dunianya dengan kemampuan motorik dan sensorik, yaitu dimulai dengan mereka mengenal bentuk-bentuk benda. Mereka juga mengembangkan pikirannya dari warna-warna yang mereka lihat.

3.    Jawaban menurut kelompok ini adalah bahwa masalah akademik itu tergantung dari individu masing-masing. Pada diri anak sendiri harus ada kemauan untuk maju dan berkembang. Dan kita sebagai calon pendidik nantinya harus bisa mengawasi dan memonitor perkembangan dari para peserta didik kita kelak.
Jawaban ini kemudian disemournakan kembali oleh Bapak Nur Widodo. Menurut beliau, kognitif itu penting. Orang yang mempunyai kemampuan kognitif yang bagus, maka kelak orang itu akan sukses. Dalam dunia pendidikan sendiri sebagian besar lembaga pendidikan dominan lebih menekankan pengembangan kognitif daripada yang lain. Maka dari itu kognitif dikatakan penting.

D.    Kesimpulan:

·         perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan peserta didik yang berkaitan dengan pengetahuan, yaitu semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya
·         Dalam pembahasan proses perkembangan kognitif, ada dua alternative proses perkembangan kognitif yaitu pada teori dan tahap-tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Piaget dan proses perkembangan kognitif oleh para pakar psikologi pemprosesan informasi.
  Nama Anggota Kelompok :
1.      Rahmatul Aini                                (201210070311156)
2.      Nuriza Rozaq Ma’rufah                 (201210070311152)
3.      Evie Fitriana                                   (201210070311148)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar